Peningkatan kegempaan tersebut tidak diikuti dengan anomali visual, dimana tinggi kolom asap masih sekitar 20 meter, kondisi lainnya belum tampak.
Berdasarkan data kegempaan yang terekam, kondisi aktivitas vulkanik Gunung Karangetang mengindikasikan sedang terjadi proses pergerakan suplai magma dari bagian dalam bergerak ke bagian dangkal.
Baca Juga:
Kejati Sulut Tahan Bupati Sitaro Terkait Dugaan Korupsi Dana Stimulan Rumah Rusak
Hal tersebut dicirikan dengan terekamnya peningkatan gempa vulkanik dangkal, serta gempa hybrid/fase banyak yang mencerminkan terjadinya pergerakan fluida di permukaan yang mengganggu kesetimbangan kubah lava, sehingga muncul gempa guguran.
Kemunculan gempa vulkanik dangkal, hybrid dan guguran setelah terjadinya peningkatan gempa vulkanik dalam, hal ini menunjukkan bahwa gunung api menuju fase pembentukan kubah lava atau menuju erupsi.
Peningkatan kegempaan tersebut perlu diwaspadai mengingat potensi bahaya gunung api Karangetang berupa erupsi magmatik serta guguran awan panas yang meluncur mengarah ke lembah-lembah dari pusat erupsi kawah utara atau kawah selatan.
Baca Juga:
Gubernur Sulut Laporkan Pertumbuhan Ekonomi 2025 Capai 5,66 Persen ke DPR RI
Disebutkan juga, potensi erupsi efusif Gunung Karangetang yang merupakan ciri khasnya dimana kubah lava/lava keluar dan meluncur ke lembah-lembah.
Dengan terjadinya peningkatan kegempaan serta kejadian guguran lava pijar tersebut, masyarakat direkomendasikan agar tidak memasuki dan beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari kawah utara dan kawah selatan serta 2,5 kilometer pada sektoral barat daya dan selatan dari kawah selatan.
Masyarakat diharapkan tetap tenang dan mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, serta tidak terpancing berita-berita yang tidak benar dan tidak bertanggungjawab mengenai aktivitas gunung Karangetang.