Makanya sindiran atas aksi protes jual ginjal tersebut dilayangkan agar proyek kembali dilirik untuk dilanjutkan.
"Anggaran ndak cukup, jadi so ba (sudah) nekat bagitu (jual ginjal). Soalnya masyarakat kesulitan gara-gara ini. Jadi daripada nda jadi-jadi (jembatan) torang somo bajual ginjal (kita jual ginjal saja untuk bantu biaya pembangunan)," urai dia.
Baca Juga:
Hakim MK Heran, Cabup di Sulut Bagi-bagi Buku ke Anak SD
Menurutnya jembatan itu sangat dibutuhkan sebagai akses penghubung antara Ollot dan Goyo. Selama ini warga terpaksa melintasi sungai yang membahayakan warga ketika ingin menyeberang.
"Bayangkan jika ada orang yang lagi kena sial terus masuk ke dalam sungai lalu tenggelam dan meninggal, siapa yang bertanggung jawab," keluh dia.
Apalagi warga mengeluhkan penyeberangan dengan membayar biaya jasa Rp 3 ribu sekali melintas. Menurutnya ini akan memberatkan jika ada keperluan antar daerah yang mengharuskan bolak-balik untuk menyeberang.
Baca Juga:
Usai Ajak Youtuber Korsel ke Hotel, Kemenhub Bebastugaskan Asri Damuna
"Bayangkan masyarakat berapa kali lewat dalam sebulan di tempat ini. Apalagi masyarakat Bolangitang dan sekitarnya ada juga yang berkebun di seberang sungai, maka bisa dipastikan biaya yang mereka keluarkan Rp 6 ribu per hari,"urai Alin.
Biaya penyeberangan akan naik hingga 3 kali lipat ketika sungai meluap. Selain terbebani biaya, warga juga bertaruh nyawa ketika menyeberang saat banjir.
"Belum lagi jika sungai sedang banjir dan air meluap bagaikan janji Pemda, biayanya jadi berlipat ganda Rp 10 ribu sekali lewat, dengan risiko yang cukup tinggi," ungkapnya.